Sponsors Link

23 Jenis-Jenis Penyakit Mata: Penyebab, Gejala dan Pengobatannya

Sponsors Link

Mata adalah organ penglihatan manusia, menjalankan fungsinya dengan menangkap cahaya dan meneruskannya kepada ‘layar’ retina di ujung belakang kelopak mata, dimana terkumpul juluran saraf penglihatan yang disebut saraf optik. Bagian terluar bola mata adalah lapisan selaput bernama kornea. Cahaya akan masuk ke dalam mata melewati lubang kecil yang bernama pupil. Kecil dan besarnya ukuran pupil ini diatur oleh otot-otot halus yang dapat berkontraksi dan berelaksasi yang disebut dengan iris, bagian ini jugalah yang memberikan warna pada bola mata manusia, seperti hitam, coklat, hingga biru dan hijau.

ads

Setelah masuk ke dalam lubang, cahaya akan dibiaskan oleh lensa mata yang berbentuk cembung. Tujuannya adalah agar cahaya yang masuk dari luar dapat berpotongan secara tepat pada retina mata, untuk menghasilkan visualisasi penglihatan yang jelas dan tajam. Setelah dibiaskan oleh lensa, cahaya akan melewati ‘badan bola mata’, yang bernama vitreous humor, memiliki konsistensi hampir seperti jeli.

Setelah itu, baru cahaya akan sampai pada retina, dan juluran-juluran saraf pada lapisan ini akan meneruskan informasi visual ke otak. Otak kita akan memproses informasi yang datang dan menciptakan persepsi tentang benda apa yang  kita lihat, bagaimana warnanya, dan sebagainya. Sehingga, agar memiliki visualisasi yang baik, maka cahaya harus mampu melewati seluruh bagian ini dengan baik, tidak boleh ada kelainan atau kerusakan di salah satu bagiannya.

Secara umum, jenis-jenis penyakit mata dibagi ke dalam lima golongan, untuk memudahkan dokter melakukan diagnosis kerja. Empat golongan tersebut adalah:

  1. Penyakit kelopak mata
  2. Mata merah dengan penglihatan normal
  3. Mata merah dengan penglihatan turun mendadak
  4. Mata tenang dengan penglihatan turun mendadak
  5. Mata tenang dengan penglihatan turun perlahan

Penyakit Kelopak Mata

1. Blefaritis

Blefaritis pada anakBlefaritis adalah istilah medis untuk radang pada kelopak mata. Gejala yang akan muncul adalah kelopak mata yang merah, bengkak, terasa sakit, serta keluar cairan lengket dari mata. Penderita akan merasa sulit membuka matanya. Blefaritis disebabkan oleh infeksi atau alergi yang terjadi secara kronis (dalam jangka waktu yang sangat lama, mencapai bulan atau bahkan tahunan).

Infeksi yang menimbulkan blefaritis paling sering disebabkan oleh bakteri Streptococcus, Pneumococcus, serta Pseudomonas.  Blefaritis yang diakibatkan oleh alergi dapat dipicu oleh kontak kronis dengan asap, debu, bahan kimia yang bersifat iritatif, serta bahan kosmetik. Oleh karena itu, kita perlu hati-hati apabila akan mengaplikasikan bahan kimia pada kulit. Pilih produk yang aman, dan segera hentikan apabila terdapat gejala iritasi seperti gatal, rasa panas, dan kemerahan.

Selain bakteri dan alergi, blefaritis juga dapat diakibatkan oleh infeksi parasit kutu, yang bernama Demodex folliculorum. Kutu ini tinggal didalam folikel-folikel rambut (bulu mata), sehingga menimbulkan gejala yang khas pada bulu mata. Bulu mata akan mengalami hiperkeratinisasi (mengeras dan terlihat sangat kotor), terlihat tidak teratur seperti bulu mata pada umumnya, hingga menyebabkan kebotakan bulu mata.

Blefaritis akibat infeksi bakteri, diobati dengan antibiotik topikal (berupa salep). Sebelumnya, kelopak mata akan dicuci terlebih dahulu dengan cairan fisiologis (NaCl 0,95%). Brefaritis alergi ditangani dengan menghentikan kontak dengan bahan iritan, serta akan diberikan obat anti-alergi. Khusus untuk blefaritis akibat D. folliculorum, bulu mata harus dicabut semua terlebih dahulu, kelopak dibersihkan dengan cairan fisiologis, dan diberikan obat antibiotik oral (diminum), seperti tetrasiklin.

Baca juga: Penyakit Mata yang Menular.

2. Hordeolum

HordeolumHordeolum adalah istilah klinis yang lebih sering dikenal sebagai “bintitan”. Hordeolum sejatinya adalah kondisi peradangan kelenjar yang bernama Zeiss, Moll, atau Meibom, yang terletak di dalam kelopak mata. Ketiga kelenjar ini berfungsi untuk memproduksi cairan “minyak” atau lipid dan keringat yang berfungsi sebagai pelumas kulit kelopak mata.

Peradangan pada salah satu kelenjar kelopak mata tersebut menimbulkan gejala bengkak pada kelopak mata, kemerahan, rasa sakit, rasa kelilipan, dan terkadang disertai rasa panas dan gatal. Agen infeksi yang biasanya menyebabkan penyakit ini adalah bakteri dari kelompok Staphylococcus sp. Infeksi hordeolum ini bersifat supuratif, artinya mengeluarkan nanah, berada dibalik benjolan bintitan ini.

Pada sebagian kasus, hordeolum bersifat sangat ringan dan dapat sembuh sendiri, dengan higienitas yang dijaga baik. Untuk mempercepat meredanya peradangan, dapat dibantu dengan mengompres kelopak mata dengan air hangat, 3 kali sehari.

Namun pada beberapa hordeolum yang terlanjur memberat, benjolan dapat bersifat sangat besar, hingga penderita sangat sulit membuka matanya. Nanah juga dapat keluar dari pangkal bulu mata. Pada kasus berat ini, terkadang diperlukan pengangkatan bulu mata untuk drainase nanah, dibantu juga dengan melakukan kompres hangat selama 10 hari.

Pada kasus biasa, pengobatan dapat diberikan dengan mengoleskan antibiotik salep kloramfenikol di bagian benjolan. Pada kasus dimana benjolannya cukup berat, Dokter dapat merekomendasikan antibiotik oral yang bekerja sistemik (seluruh tubuh), seperti amoksisilin dan ciprofloxacin.

Baca juga: Penyakit Mata Chalazion.

Mata Merah dengan Penglihatan Normal

3. Konjungtivitis Bakteri

konjunctivitis bakteriBerdasarkan namanya, penyakit ini berarti peradangan pada konjungtiva, lapisan selaput lendir yang menutupi bagian depan bola mata dan bagian belakang kelopak mata. Konjungtiva inilah yang orang akan lihat sebagai warna putih pada bola mata. Dibagian agak ke tengah, konjungtiva akan berbatasan dengan kornea, sebagai selaput lendir pelindung pupil dan iris.

Gejala klinis yang muncul pada konjungtivitis adalah mata merah akibat pelebaran pembuluh-pembuluh darah mata, rasa seperti adanya benda asing pada mata, serta keluar cairan (sekret) dari mata. Yang membedakan konjungtivitis bakteri dengan agen penyebab lainnya adalah sekret yang keluar ini bersifat purulen, dimana cairan bersifat kental, berwarna putih kekuningan, serta lengket. Hal ini lah yang sering dikatakan awam sebagai “belekan“.

Konjungtivitis bakteri dapat disebabkan golongan Streptococcus, Corynebacterium diphterica, Pseudomonas, Neisseria, dan Haemophilus sp. Oleh karena itu, obat yang diberikan adalah dari golongan antibiotik, diantaranya yaitu kloramfenikol, eritromisin, basitrasin, dan sulfa. Antibiotik dapat diberikan dalam bentuk tetes mata setiap jam, atau salep mata dioleskan ke permukaan bola mata dengan frekuensi 4 hingga 5 kali sehari. Instruksi dokter dalam penggunaan obat ini sangat penting untuk diperhatikan dan diikuti sebagaimana mestinya.

Sponsors Link

4. Konjungtivitis Virus

konjunctivitis virusPeradangan konjungtiva ini disebabkan oleh infeksi virus. Bedanya dengan infeksi bakteri, gejala konjungtivitis ini mengeluarkan air mata yang banyak (mata berair), tidak seperti infeksi bakteri yang banyak mengeluarkan sekret lengket. Pada pemeriksaan lab usapan mata, ditemukan banyak sel-sel limfosit. Jenis dan penanganan konjungtivitis ini sangat tergantung dari agen penyebabnya. Diantara jenis konjungtivitis virus adalah:

  • Demam faringokonjungtivitis

Ditemukan kedua mata merah berair disertai demam dan radang tenggorokan. Penyakit ini disebabkan oleh adenovirus tipe 3, 4, dan 7, dapat menular cepat terutama pada anak-anak di sekolah yang disebarkan melalui droplet dan lewat kolam renang. Pengobatan yang diberikan diantaranya obat penurun demam (misal parasetamol) dan steroid topikal untuk meredakan peradangan.

  • Konjungtivitis herpetik

Umumnya dimulai dengan munculnya benjolan berupa bintik-bintik kecil, dan infeksinya biasanya hanya mengenai salah satu mata saja. Penyakit ini diakibatkan oleh infeksi virus Herpes simplex atau herpes zoster, sehingga harus diobati dengan obat antivirus, seperti asiklovir. Perlu pemeriksaan mikrobiologi untuk menegakkan diagnosis penyakit ini.

Baca juga: Jenis Penyakit Mata pada Anak.

5. Konjungtivitis Alergi

konjungtivitisBerbeda dengan konjungtivitia diatas, radang konjungtiva tipe ini diakibatkan oleh agen non-infeksius. Reaksi alergi dapat terjadi secara cepat, atau timbul beberapa lama setelah paparan alergen, seperti reaksi alergi terhadap obat dan zat toksik. Karena namanya alergi, maka tiap orang memiliki kerentanan yang berbeda-beda akan penyakit ini. Ini terjadi karena reaksi antibodi tubuh penderita berlebihan terhadap zat asing.

Gejala yang dialami diantaranya adalah mata merah, terasa panas dan bengkak, gatal, dan terkadang silau. Karena respon masing-masing individu berbeda-beda, maka gejala yang dialami penderita pun dapat berbeda-beda, dari ringan hingga berat.

Pada beberapa kasus, seperti pada konjungtivitis vernal, pada bagian dalam kelopak mata dapat muncul pertumbuhan seperti daging kecil, yang disebut papil. Ini akan menimbulkan rasa berat, dan mengganggu penglihatan. Konjungtivitis vernal terjadi secara berulang kali (kambuhan) dan terjadi pada kedua mata.

Pengobatan konjungtivitis alergi sangat bergantung dengan penyebab dan beratnya gejala yang dialami penderita. Pertama, tentunya harus mencegah kontak dengan alergen. Obat yang dapat diberikan adalah astringen (mengecilkan jaringan), dan steroid (anti-radang) topikal dosis rendah.

Baca juga: Alergi Mata pada Anak.

6. Perdarahan Sub-Konjungtiva

Perdarahan Sub-KonjungtivaPenyakit mata ini diakibatkan oleh ruptur atau rusaknya pembuluh darah yang terdapat di bagian bawah lapisan konjungtiva. Hal ini diakibatkan pembuluh darah yang rapuh, yang terjadi pada penderita hipertensi, dan arteriosklerosis (dimana dinding pembuluh menjadi kaku akibat kadar kolesterol tubuh yang tinggi). Trauma kecil seperti menggosok mata akan memicu rusaknya pembuluh darah ini. Biasanya, kelompok yang rentan akan penyakit ini adalah orang lanjut usia.

Tanda yang timbul adalah bagian putih mata yang tiba-tiba seperti terwarnai oleh merahnya darah, ukurannya bisa kecil maupun besar. Penderita juga akan merasakan ada sesuatu mengganjal, namun tidak nyeri. Karena warna merah ini, orang biasanya takut dan langsung ke dokter. Namun, tidak ada penanganan khusus yang diperlukan. Cara meredakannya adalah dengan mengkompres hangat sehingga perdarahan dapat diserap masuk kembali ke pembuluh darah. Gejala akan hilang dalam waktu 1-2 minggu, sebelumnya warna merah akan berubah kehitaman terlebih dahulu seperti pada luka biasa.

7. Pterigium

PterigiumPterigium jaringan degeneratif fibrovaskular yang biasanya tumbuh dari ujung sebelah dalam dari mata (bagian yang dekat dengan hidung), dan mengarah ke bagian iris mata. Fibrovaskular artinya jaringan pembuluh darah yang mengalami  pengerasan karena menjadi “jaringan parut” (fibrosis), diakibatkan oleh proses radang kronik. Pterigium disebut juga “winglike”, karena bentuknya yang mirip sayap tipis berwarna putih halus.

Penyebab pasti dari kelainan ini belum diketahui secara pasti, namun diduga dipicu oleh iritasi kronik (dalam jangka waktu yang lama) akibat debu, cahaya matahari, maupun udara yang panas. Penderita biasanya tidak merasakan gejala sakit yang berarti, mungkin hanya berupa mata yang agak kemerahan. Penglihatan secara umum tidak terganggu.

Pengobatan pterigium tergantung dengan gejala yang dialami pasien. Untuk mencegah makin parahnya pterigium, lindungi mata dari debu, sinar matahari dan udara kering dengan kacamata. Apabila radang kemerahan sudah cukup mengganggu, dokter dapat memberikan obat steroid atau dekongestan. Untuk menghilangkan pterigium secara total harus dilakukan tindakan bedah, biasanya ketika pterigium sudah mengganggu penglihatan dan untuk mengurangi risiko kekambuhan.

Baca juga: Manfaat Buah Bit untuk Mata.

Mata Merah Penglihatan Menurun

8. Keratitis Bakteri

Keratitis BakteriJenis-jenis penyakit mata selanjutnya adalah keratitis. Keratitis memiliki arti peradangan lapisan kornea. Gejala keratitis bakteri yang timbul adalah mata merah yang terasa sakit, berat, dan mengeluarkan cairan lengket (belekan) sehingga terkesan kotor. Setiap bangun tidur pagi penderita akan mengeluhkan kelopak mata yang sulit terbuka.

Karena kornea berfungsi untuk melindungi pupil tempat lewatnya cahaya masuk, maka radang pada lapisan ini akan menyebabkan mata silau (karena cahaya berpendar ketika memasuki kornea), disertai penglihatan berkurang. Keratitis umumnya disertai dengan konjungtivitis.

Sponsors Link

Agen bakteri penyebabnya bermacam-macam, dari Staphylococcus, Pseudomonas, Haemophilus, Streptococcus, dan golongan Enterobacteriacea. Pemicu infeksi ini adalah higienitas yang kurang terjaga, trauma seperti masuknya benda asing, dan pemakaian contact lens berkepanjangan dan kurang dijaganya kebersihan dari contact lens tersebut.

Pengobatan keratitis bakteri tentunya dengan antibiotik, yang tergantung dengan jenis bakteri penyebabnya. Untuk bakteri golongan gram (-) dapat diberikan ceftriaxone, moxifloxacin, caftazidime, atau floroquinolone. Sedangkan bakteri gram (+) dapat diberikan cefazoline, vancomycine, atau moxifloxacine.

Baca juga: Ciri-ciri Mata Belekan.

9. Keratitis Jamur dan Parasit Acanthamoeba

 Keratitis Jamur dan Parasit AcanthamoebaGejala kedua jenis infeksi ini biasanya terasa lebih nyeri dan berair dibandingkan infeksi bakteri, namun lebih jarang terjadi. Dokter akan curiga dengan infeksi jenis ini apabila terdapat faktor pemicu yang spesifik.

Untuk infeksi jamur, faktor risiko yang paling sering menjadi pemicu adalah kelilipan mata oleh bagian tumbuh-tumbuhan, misalnya saat berladang. Jenis jamur yang menjadi penyebab diantaranya adalah Fusarium, Candida, dan Aspergillus. Untuk mengetahui pasti, dokter akan melakukan usapan kornea dan dilakukan pemeriksaan mikroskop dengan KOH 10%. Obat yang diberikan adalah anti-jamur, seperti ketokonazol, amfoterisin B, nistatin, atau golongan azol lainnya.

Sedangkan parasit Acanthamoeba seringkali menyebabkan keratitis pada pemakai lensa kontak. Acanthamoeba merupakan parasit yang senang hidup di tanah dan air, baik bersih maupun kotor. Sehingga, dapat masuk ketika membersihkan lensa kontak dengan air yang tidak steril, atau menggunakan lensa kontak  ketika berenang.

Pengobatan infeksi ini cukup sulit. Pertama-tama harus dilakukan ‘kerokan’ pada kornea yang terinfeksi agar membuang parasit Acanthamoeba. Kemudian, diberikan obat polyhexamethylene biguanide atau klorhexidine digluconate, yang berfungsi sebagai anti-amoeba.

10. Keratitis Dendritik

Keratitis DendritikKeratitis ini dinamakan ‘dendritik’ karena tanda yang ditimbulkannya pada bagian tengah mata, berupa juluran-juluran garis berwarna kehijauan hingga ungu, dan membentuk cabang. Penyakit ini diakibatkan oleh virus, yaitu Herpes simplex. Gejala yang timbul hampir sama dengan keratitis lain, dimana mata terasa silau, rasa kelilipan, tajam penglihatan menurun, dan fotofobia (tidak nyaman melihat sinar).

Pada awalnya, gejalanya cukup ringan, sehingga penderita banyak yang terlambat untuk berkonsultasi. Namun, apabila dibiarkan infeksi akan merambah ke bagian mata yang lebih dalam, sehingga menimbulkan komplikasi serius. Pengobatan keratitis herpetik ini adalah dengan antivirus asiklovir dan agen sikloplegik (obat untuk melebarkan pupil.

Baca juga: Penyebab Kebutaan Mata.

11. Tukak (Ulkus) Kornea

Tukak KorneaTukak atau ulkus merupakan luka pada jaringan permukaan, dimana sebagian jaringan mengalami kematian (nekrosis) dan hilang, membentuk cekungan, dalam hal ini terjadi pada kornea. Akibat  luka ini, terjadi peradangan yang cukup hebat, sehingga mata sangat merah dan pada bagian tengah mata (kornea) terbentuk jaringan ikat berwarna putih. Ulkus ini berwarna putih keabu-abuan hingga kekuningan, tergantung penyebabnya. Akibatnya, penglihatan penderita sangat terganggu, merasa silau dan fotofobia, serta nyeri dan terdapat sensasi adanya benda asing pada mata.

Ulkus ini terletak dibagian tengah kornea, hampir selalu diakibatkan oleh infeksi, baik bakteri, jamur, virus seperti herpes, ataupun Acanthamoeba. Oleh karenanya, sebenarnya ulkus kornea ini merupakan komplikasi (penyakit lanjutan) dari keratitis apabila tidak ditangani secara tuntas.

Pengobatan ulkus sangat tergantung oleh agen penyebabnya, sehingga sangat penting dilakukan pemeriksaan mikrobiologi laboratorium. Sebelum hasil lab keluar, dapat diberikan antibiotik spektrum luas seperti florokuinolon. Obat antibiotik, antivirus maupun anti jamur dapat diberikan dalam kemasan salep mata.

Cara menggunakan salep mata ini dengan mengaplikasikannya pada bagian dalam kelopak mata , kemudian menutup mata dan menggerakkan bola mata ke segala arah. Pemakaian salep mata sangatlah tidak nyaman, sehingga biasanya digunakan sebelum tidur. Namun, obat inilah yang paling efektif dibandingkan oral atau tetes mata.

Baca juga: Mata Bengkak Pada Anak.

12. Uveitis Akut

uveitisUveitis adalah penyakit peradangan pada bagian dalam bola mata, tepatnya pada uvea. Sedangkan akut berarti terjadi dalam onset waktu yang cepat. Uvea sendiri merupakan gabungan dari beberapa struktur mata, yaitu iris, badan silier (bagian yang menggantung lensa mata), koroid (salah satu lapisan pelindung mata, strukturnya berada dibagian luar dari retina)

Uveitis paling sering terjadi pada bagian depan (sehingga disebut uveitis anterior), biasanya terjadi hanya pada salah satu mata. Gejala yang timbul berupa mata merah berair dengan penglihatan menurun, serta fotofobia dan sakit ringan. Ketika dilakukan pemeriksaan, didapatkan tekanan bola mata meningkat.

Penyebab uveitis tidak dapat disimpulkan berdasarkan gejala dan tanda klinis saja. Berbagai faktor risiko dapat memicu uveitis, seperti infeksi, trauma, penyakit autoimun, atau penyebab lainnya yang belum dapat diidentifikasi secara pasti. Namun, mekanisme yang mendasari uveitis sebagian besar adalah reaksi hipersensitivitas imun (artinya imun yang bereaksi secara hiperaktif).

Pengobatan uveitis dapat diberikan steroid (anti-inflamasi) salep atau tetes mata, namun demikian penggunaannya harus hati-hati dan sesuai indikasi. Steroid tidak dianjurkan diberikan untuk herpes simpleks atau herpes zoster. Selain itu, dapat diberikan agen midriatikum (memperbesar pupil).

Baca juga: Penyakit Mata Akibat Radiasi Hp.

13. Endoftalmitis

EndoftalmitisEndoftalmitis juga merupakan peradangan yang terjadi di dalam bola mata, namun lebih luas dan lebih berat dibandingkan dengan uveitis. Selain itu, endoftalmitis juga merupakan peradangan yang supuratif (menghasilkan nanah), terjadi baik di segmen depan ataupun belakang bola mata.

Penyebab endoftalmitis adalah bakteri atau jamur, didapatkan dari luar (eksogen) maupun dari dalam (endogen). Pada endoftalmitis eksogen, biasanya merupakan komplikasi dari keratitis dan ulkus kornea, sehingga patogen masuk hingga menembus kedalam bola mata. Sedangkan pada endoftalmitis endogen, bakteri atau jamur berasal dari dalam darah, yang bersirkulasi hingga sampai ke pembuluh darah dalam mata dan menyebabkan infeksi berat. Hal ini dapat terjadi apabila penderita sudah mengalami ‘sepsis’.

Endoftalmitis memerlukan pengobatan topikal dan oral (yang bersifat sistemik), seperti ampisilin dan kloramfenikol. Selain itu, terkadang diperlukan antibiotik tambahan lain sesuai dengan agen definitif penyebab endoftalmitis, tentunya berdasarkan pemeriksaan lab mikrobiologi. Sesuai indikasi dokter, endoftalmitis juga dapat memerlukan antibiotik yang disuntikkan langsung ke dalam bola mata.

Baca juga: Cara Mengobati Sakit Mata dengan Cepat.

Mata Tenang Penglihatan Turun Perlahan

14. Miopia dan Hipermetropia

myopiaKedua kelainan ini termasuk dalam kelainan refraksi. Refraksi adalah istilah dimana cahaya dibelokkan sepanjang jalur penglihatan, mulai dari kornea hingga berakhir di lapisan retina.

Cahaya perlu di refraksikan dengan baik agar berpotongan tepat di lapisan retina ini, tempat berkumpulnya saraf optik, agar penglihatan kita jelas dan tajam. Kelainan media refraksi mata menyebabkan penglihatan kabur.

Miopia: disebut juga rabun jauh, penglihatan akan kabur dan buram apabila melihat objek yang terletak jauh dari mata. Hal ini diakibatkan bentuk bola mata yang lebih panjang dari seharusnya, sehingga cahaya jatuh di depan retina.

hipermetropiHipermetropia: disebut rabun dekat, penglihatan kabur dan buram apabila melihat objek yang terletak dekat dari mata, seperti membaca. Hal ini karena bentuk bola mata yang lebih pendek dari seharusnya, sehingga cahaya jatuh di belakang retina.

Kedua kelainan ini dapat ditangani dengan menggunakan kacamata. Miopia menggunakan kacamata lensa negatif (cekung), sedangkan hipermetropia lensa positif (cembung). Penderita yang mengalami miopia atau hipermetropia sangat berat dapat melakukan operasi untuk menyembuhkan kelainan ini.

Baca juga: Penyakit Mata Hipermetropi.

ads

15. Presbiopi

presbiopiBerbeda dengan miopia atau hipermetropia, presbiopia adalah kelainan refraksi yang diakibatkan oleh melemahnya kelenturan lensa mata untuk mengatur kecembungannya. Penyakit ini berhubungan dengan proses penuaan.

Oleh karenanya, lansia penderita presbiopia akan mengalami pandangan kabur baik melihat objek yang jauh ataupun yang dekat. Maka dari itu, penanganan presbiopia adalah dengan menggunakan kacamata lensa ganda (bagian cekung untuk melihat jauh, bagian cembung untuk melihat dekat dan membaca).

16. Astigmatisma

astigmatismaKelainan refraksi ini lebih dikenal awam dengan istilah penyakit “silinder”, sesuai dengan jenis lensa yang digunakan untuk mengkoreksi kelainan mata. Astigmatisma sebenarnya adalah kondisi dimana cahaya memiliki lebih dari satu titik fokus, sehingga baik penglihatan jarak dekat maupun jarak jauh, penglihatan akan terasa buram.

Hal ini diakibatkan oleh tidak idealnya bentuk dari kornea, dapat berupa permukaan yang tidak rata atau kelengkungan kornea yang menyerupai bola American football. Karena permasalahan astigmatisma terletak pada struktur kornea, maka diperlukan lensa untuk mengatur cahaya masuk ke mata secara merata, hingga akhirnya membentuk hanya 1 fokus saja, yaitu dengan lensa yang berbentuk silindris (tabung).

Baca juga: Penyakit Mata Astigmatisma.

17. Katarak

katarakKatarak didefinisikan sebagai penyakit kekeruhan lensa mata. Kekeruhan ini dapat terjadi karena banyak faktor penyebab, dan berjalan progresif. Secara umum, katarak diderita oleh orang lanjut usia, akibat proses degeneratif pada protein-protein lensa mata yang menyebabkan lensa kehilangan kejernihannya.

Beberapa faktor pemicu katarak adalah:

  • Diabetes
  • Uveitis dan endoftalmus
  • Trauma mata
  • Pajanan sinar UV terus menerus
  • Riwayat keluarga katarak
  • Trauma pada mata (termasuk pembedahan intra-okular dapat menjadi faktor risiko)

Gejala yang dialami penderita adalah gangguan pada penglihatan, dimana akan terlihat kabur, pandangan seperti berkabut/berasap, merasa silau, melihat ada bayangan disekitar suatu sinar, dan penglihatan ganda. Apabila sudah sangat mengganggu penglihatan, katarak dapat diobati dengan tindakan pembedahan lensa mata.

Baca juga: Penyakit Mata Akibat Diabetes.

18. Glaukoma

glaukomaDiagnosis glaukoma ditegakkan dengan memeriksa tekanan bola mata, funduskopi (memeriksa keadaan saraf optik di bagian belakang bola mata dengan suatu alat) dan pemeriksaan lapang pandang. Glaukoma didefinisikan sebagai kerusakan saraf optikus pada retina, yang menyebabkan lapang pandang penderita menyempit (bedakan dengan penglihatan buram). Akibatnya, penderita akan sering tersandung, karena lapang pandang bagian bawah sudah menyempit (tidak mampu melihat bagian bawah).

Faktor risiko utama penyakit ini adalah tingginya tekanan bola mata, dimana kondisi ini akan memberikan tekanan yang besar ke arah belakang bola mata, tempat berada saraf optik, secara terus-menerus. Ini menyebabkan kerusakan pada saraf optik. Tekanan bola mata dipengaruhi oleh produksi cairan aqueous humor yang terus menerus dihasilkan mata, serta aliran dan drainasenya.

Prinsip pengobatan glaukoma adalah bertujuan untuk menurunkan tekanan bola mata. Hal itu dapat dicapai dengan:

  • Menurunkan produksi cairan aqueous
  • Memfasilitasi aliran dan drainase cairan aqueous agar cepat masuk ke pembuluh darah
  • Memperkecil ukuran badan bola mata (vitreous humour)

Ketiga prinsip pengobatan ini dapat dicapai dengan obat dan operasi, tergantung penyebab dan tingkat keparahan glaukoma, serta penilaian dokter.

19. Retinopati

retinopatiRetinopati adalah penyakit pada retina dimana terjadi penurunan fungsi dan kematian jaringan, sehingga penglihatan penderita akan menurun secara progresif, dan lama-kelamaan dapat menyebabkan kebutaan. Penderita mengeluh pandangan makin kabur , sehingga terkadang terus menerus berganti lensa kacamata. Padahal, ternyata masalah terletak pada retina.

Kematian jaringan retina ini merupakan komplikasi dari berbagai penyakit:

  • Anemia
  • Diabetes melitus
  • Hipotensi (tekanan darah terlalu rendah
  • Hipertensi (tekanan darh terlalu tinggi)
  • Retinopati leukemia

Karena penyebabnya berbeda-beda, maka pengobatan kausanya adalah sesuai dengan kasus penderita. Selain itu, pengobatan pada retina dengan tindakan bedah menggunakan laser (fotokoagulasi).

Baca juga: Manfaat Buah Rimbang untuk Mata.

Mata Tenang Penglihatan Turun Mendadak

20. Neuritis Optik

Neuritis OptikJenis-jenis penyakit mata selanjutnya adalah neuritis optik. Dari namanya, penyakit ini berarti peradangan pada saraf optik. Akibat peradangan ini, jaringan saraf mengalami sklerosis (terbentuk jaringan ikat), sehingga penderita mengalami kehilangan penglihatan dalam beberapa jam hingga hari. Dapat mengenai satu mata atau bilateral.

Penyebab neuritis juga bermacam-macam, diantaranya infeksi rubella, jamur Cryptococcosis, tuberculosis di luar paru, parotitis (penyakit gondong), sifilis, dan autoimun. Namun, perlu diingat tidak semua pasien yang menderita penyakit ini, praktis akan menderita neuritis juga. Masing-masing tergantung kondisi tubuh dan kerentanan penderita. Pengobatan definitif neuritis tentunya tergantung pemeriksaan lebih lanjut akan kausa penyakit. Dapat diberikan juga obat steroid untuk meredakan gejala radang.

21. Ablasio Retina

Ablasio RetinaRetinal detachment atau ablasio retina adalah kondisi dimana terlepasnya sel sensoris retina dari lapisan dasarnya, yang disebut retinal pigment epithelium. Sel sensoris ini fungsinya adalah untuk menangkap cahaya yang masuk ke retina, terdiri dari sel kerucut (memproses warna merah-hijau-biru) dan sel batang (memproses warna hitam putih).

Pada kasus ini, ketika melihat penderita akan merasa ada benda kecil beterbangan, disusul dengan kilat, dan diikuti penurunan penglihatan secara tiba-tiba. Pengobatan harus dilakukan sesegera mungkin, yaitu dengan pembedahan.

Baca juga: Penyakit Mata Ablasio.

22. Oklusi Vena dan Arteri Vena

Oklusi Vena dan Arteri VenaRetina adalah jaringan hidup juga, perlu asupan nutrisi dan oksigen seperti jaringan tubuh lainnya. Oleh karena itu, retina juga dilengkapi oleh pembuluh darah arteri dan vena. Namun pada penyakit ini, terjadi sumbatan salah satu pembuluh darah. Penderita akan merasakan penurunan penglihatan, tanpa mata merah atau produksi sekret.

Penyebab sumbatan pembuluh darah diantaranya adalah hipertensi dan arteriosklerosis (dinding pembuluh darah tebal dan kaku akibat timbunan lemak, pada penderika kolestrol tinggi). Pengobatan kausa adalah dengan mengontrol hipertensi dan kadar kolestrol. Sedangkan pengobatan untuk penglihatan dilakukan dengan laser fotokoagulasi. Ada beberapa obat lain yang perlu disuntikkan kedalam bola mata.

Baca juga: Cara Merilekskan Mata.

Gangguan Penglihatan Warna

23. Buta Warna

test buta warnaKelainan ini terjadi dimana penglihatan akan warna tertentu atau keseluruhan, tidak sempurna. Sebagian besar buta warna diturunkan, yaitu lewat kromosom X. Namun, penyakit tertentu atau toksik yang merusak saraf sensoris kerucut juga  dapat menyebabkan buta warna. Toksik disini erat hubungannya dengan pekerjaan, misalnya pada pekerja pabrik konveksi, pabrik cat, dan pengawas lalu lintas.

Manusia dapat mengidentifikasi berbagai warna karena terdapat saraf sensoris pada retina, bertugas ‘menangkap’ warna, dinamakan sel kerucut (bentuk badan sel mirip kerucut). Ada 3 jenis sel kerucut, masing-masing bertugas untuk mengenali 1 warna: biru, merah, dan hijau. Warna lainnya tercipta dari perpaduan ketiga warna ini.

Ada beberapa jenis buta warna, yaitu:

  • Trikromat: pigmen (zat warna) kerucut lengkap 3 buah, namun ada salah satu yang tidak normal, sehingga penderita cukup sulit mengidentifikasi salah satu warna
  • Dikromat: pigmen kerucut hanya 2 buah, penderita sulit membedakan warna tertentu.
  • Monokromat: hanya terdapat 1 jenis sel kerucut, penderita sering mengeluh fotofobia, dan tajam penglihatan juga berkurang
  • Akromatopsia: dimana seluruh komponen pigmen kerucut tidak normal, sehingga penderita tidak mampu mengidentifikasi warna.

Itulah 23 jenis-jenis penyakit mata yang dapat kami rangkum. Tulisan ini hanya memuat definisi dan penjelasan ringkas dari penyakit mata. Untuk menegakkan diagnosis pasti dan memperoleh obat yang definitif, tetap perlu dilakukan oleh dokter spesialis mata. Oleh karena itu, bila merasakan hal yang aneh pada mata, segera periksakan ke dokter agar mendapat penanganan yang tepat.

, , , , , ,